METODE JARIMATIKA Sebagai Inovasi dalam Pembelajaran Matematika

Latarbelakang

Matematika  merupakan  suatu  mata  pelajaran  yang  diajarkan  pada  setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah  Atas (SMA).  Karena pendidikan  merupakan  salah satu hal penting untuk menentukan  maju mundurnya       suatu bangsa, maka untuk menghasil kan sumber daya manusia sebagai subyek dalam pembangunan  yang baik,diperlukan modal  dari hasil pendidikan  itu sendiri. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum,  sarana dan prasarana. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi  tercapainya  tujuan  pendidikan. Namun  sampai  saat  ini  masih  banyak ditemukan   kesulitan -kesulitan yang dialami siswa didalam mempelajari matematika. Kini telah dikembangkan kan berbagai metode pembelajaran untuk mengatasi kesulitan-kesulitan   siswa   dalam   belajar   matematika,   terutama   dalam   hal berhitung. Salah satu metode yang klasik yaitu metode sempoa. Metode sempoa tentu  saja  sudah  teruji kehebatannya  dalam  mengatasi  permasalahan  berhitung selama  ratusan  tahun.  Namun  untuk  tingkat  pemula  metode  ini  dirasa  kurang praktis dikarenakan memerlukan alat bantu . Sempoa tingkat mahir menggunakan metode berhitung dengan membayangk an alat sehingga dapat membebani memori otak.

1.  NAMA  INOVASI PEMBELAJARAN :

“METODE  JARIMATIKA SEBAGAI INOVASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA   DALAM BERHITUNG DENGAN MENGGUNAKAN JARI”

 Berawal dari kepedulian seorang ibu terhadap materi pendidikan anak-anaknya. Banyak  metode   dipelajari,   tetapi   semuanya   memakai   alat   bantu   dan   kadang membebani memori otaknya. Setelah itu dia mulai tertarik dengan jari sebagai alat bantu yang tidak perlu dibeli, dibawa kemana-mana dan ternyata juga mudah dan menyenangkan. Anak-anak menguasai metode ini dengan menyenangkan dan menguasai keterampilan berhitung. Akhirnya penelitian dari hari ke hari untuk mengotak-atik  jari  hingga  ke  perkalian  dan  pembagian,  serta  mencari  uniknya berhitung dengan keajaiban jari lalu dinamakan  “Jarimatika”.Penerapan  pada anak dimulai pada usia 3 tahun untuk pengenalan konsep sampai usia 12 tahun . Jarimatika ini ada 4 level, masing-masing ditempuh 3 bulan. Setelah selesai lulusan Jarimatika akan  masuk  ke  “Fun  Mathematic  Club”  yang  akan  mengupas  matematika  secara mudah dan menyenangkan, sesuai materi di sekolahnya. Proses ini mungkin dapat membantu anak menghilangkan fobia terhadap Matematika. Sebagaimana diketahui Matematika masih menjadi momok bagi sebagian besar anak (dan juga orang tua). Maka kami belajar untuk menjadikannya mudah dan menyenangkan (yang kemudian menjadi motto Jarimatika). Penyusunan buku jarimatika pun diberikan banyak gambar menarik untuk memudahkan pemahaman dan juga menarik minat untuk mempelajarinya. Beberapa cerita disisipkan untuk memberikan jeda dan memberikan ilustrasi pentingnya jeda dalam proses belajar. Bahasanya diupayakan agar ringan dan mudah dimengerti. Sebenarnya teknik jarimatika adalah kreatifitas manusia pada jaman dahulu sebelum kalkulator ditemukan, mereka mencoba cara teknik untuk mempermudah perhitungan tanpa membebani otak terlalu banyak. Sebagai contoh untuk perkalian sembilan cukup dengan membuka semua jari anda kiri dan kanan, setiap jari anda dapat urutkan angkanya misal : kelingking kiri adalah 1, jari manis kiri adalah 2 dan seterusnya hingga kelingking kanan adalah 10,  cara penggunaannya 1  x  1 adalah menutup jari kelingking kiri sehingga yang tersisa adalah sembilan, 2 x 9 dengan cara menutup jari manis kiri sehingga yang tersisa adalah 1 dikiri dibatasi oleh jari manis yang ditutup dan 8 jari kanan yang terbuka sehingga jawabannya adalah 18, demikian seterusnya.

2.     PEMILIK IDE INOVASI METODE JARIMATIKA DALAM PEMBELAJARA MATEMATIKA BEREHITUNG DENGAN JARI ADALAH: SEPTI PENI WULANDARI

Nama Septi Peni Wulandari sudah identik dengan jarimatika. Perempuan asli Salatiga ini memang yang memperkenalkan metode belajar berhitung matematika dengan menggunakan jari-jari tangan.

Kesuksesan Peni tak datang begitu saja. Banyak kendala bagi ibu tiga anak ini saat mengembangkan metode belajar matematika dengan menggunakan jari. Selain metode ini belum dikenal orang, banyak orang yang “takut” belajar berhitung lantaran dianggap sebagai salah satu pelajaran yang sulit. “Ini menjadi tantangan yang enggak gampang ditaklukkan,” ujarnya. Menghabiskan waktu hingga sekolah menengah atas di Salatiga, Peni hijrah ke Semarang dan berkuliah di Universitas Diponegoro, mengambil Jurusan Ilmu Gizi.Lantaran diterima lewat jalur kedinasan, peluang Peni menjadi pegawai negeri sipil (PNS) terbentang luas. Namun, setelah menikah, rencana itu buyar. Sang suami memintanya berkonsentrasi mengurus keluarga dan anak-anaknya. “Suami saya bilang, anak itu harus mendapat pendidikan langsung dari orangtuanya, bukan dari orang lain,” tandas Peni.

Keputusan Peni untuk mengikuti keinginan suaminya sempat membuat orangtua Peni berat hati. “Orangtua saya sempat menyesalkan keputusan saya,” ujarnya mengenang. Maklumlah, kala itu menjadi PNS dianggap sebagai pekerjaan yang menjamin masa depan. Tahun 1995, Peni pun diboyong suaminya yang bekerja di bank ke Jakarta. Mereka menetap di Depok, Jawa Barat.Meski harus mengurus rumah tangga, hasrat Peni untuk bekerja masih menyala. Ia mengaku iri dengan kesibukan wanita karier yang ada di sekitarnya. “Setahun setelah menikah, saya masih tetap ingin bekerja,” ujar Peni. Keinginan untuk menjadi wanita karier juga tak padam meski di rahimnya sudah ada jabang bayi pertamanya.

Lagi-lagi, Dodik Maryanto, sang suami, menenangkan hasratnya. Lewat diskusi panjang, ia terngiang dengan perkataan suaminya. “Kesuksesan perempuan dimulai dari dalam rumah dan akan tampak hasilnya dari luar,” ujar Peni menirukan petuah suaminya. Mengelola keluarga dengan sungguh-sungguh adalah kesuksesan, yang hasilnya bisa dirasakan keluarga dan berguna bagi banyak orang.

Baru ketika anak pertamanya, Nurul Syahid Kusuma, lahir, hasrat Peni untuk bekerja meredup. Ia mulai menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Ia menjadi paham bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tak bisa disepelekan. “Ibu rumah tangga bukan golongan second class yang identik dengan pakaian daster dan bau bawang,” tandasnya.

Menjadi ibu rumah tangga tidak perlu menjadikan perempuan malu atau bahkan minder. Justru para perempuan harus bangga karena ibu rumah tangga adalah profesi mulia. “Bayangkan kita harus mengelola semua urusan rumah,” ujarnya. Termasuk menjadi teladan bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya Peni menjadikan kehadiran sang anak sebagai laboratorium pertamanya. Ia harus menjadi teladan sekaligus guru bagi Enes, panggilan akrab anak pertamanya itu.

Sebelum menemukan metode berhitung dengan menggunakan jari, Peni memulai dengan membuat kurikulum bagi anaknya. Karena belum berpengalaman, Peni membaca buku-buku dan ikut kuliah umum untuk memperkaya wawasannya tentang pendidikan. Bekal ini jelas berguna bagi penyusunan kurikulum yang pas buat pendidikan anaknya. Lantas, ia pun menjadikan rumahnya sebagai kantor. Ia menyusun jadwal bekerja untuk dirinya sendiri, yakni mulai dari pukul delapan pagi hingga empat sore. Bahkan, ia juga selalu berpakaian rapi dan bersepatu.

Saat itu, ia juga menolak bila ada tetangga yang datang untuk mengobrol. “Saya menjadikan rumah sebagai kantor saya, hingga sekarang,” ujarnya. Pada jam-jam bekerja, Peni juga mengaku berkonsentrasi mengajari berbagai keterampilan untuk anaknya

Septi Wulandari menciptakan metode jarimatika ketika buah hatinya mulai suka menggunakan jari untuk berhitung. Guna mendukung ekonomi keluarga lantaran sang suami kena pemutusan hubungan kerja, ia pun aktif mempromosikan metode ini. Tak segan, dia mengenalkan metodenya itu naik turun bus atau keluar masuk sekolah. Hal pertama yang diajarkan Septi Wulandari kepada sang anak adalah memperkenalkan dunia membaca. Dari eksperimennya itu, ia menemukan metode yang disebut Abaca Baca.

Septi atau akrab disapa Peni mengklaim, melalui metode ini, anak sudah mulai bisa membaca pada usia sembilan bulan. Selanjutnya, pada usia dua hingga tiga tahun, anak sudah fasih membaca koran. Ia menerapkan proses yang menyenangkan. “Anak tak hanya diajarkan untuk membaca saja, kemudian duduk, lanjut dengan membaca lagi,” kata Peni. Makanya, metode abaca baca pun berhasil diaplikasikan pada anak pertamanya. Setelah berhasil dengan metode membaca, Peni mengajarkan anaknya berhitung. Ia pun mencoba banyak metode dari luar. Namun ternyata, tak cocok dan gagal karena gaya belajar anak cenderung aktif. Peni lalu mengganti metode belajarnya. Kali ini, ia menggunakan alat peraga. Tapi, ketika alat peraga rusak, si anak enggan memakainya lagi.

Beberapa waktu berselang, Enes, anak pertama Peni, mulai menggerakkan jarinya untuk berhitung. Bersama suami, dia pun berpikir untuk mengoptimalkan kemampuan jemari sang anak sebagai alat bantu hitung.

Akhirnya, mereka menciptakan rumus-rumus matematika dengan menggunakan jemari. “Setiap ada ide baru, kami tulis di atas kertas dan ditempel, jadi di rumah itu penuh dengan tempelanflip chart,” ungkap Peni. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 juga berpengaruh pada kelangsungan hidup keluarga Peni. Saat itu, banyak perbankan bermasalah dan harus gulung tikar. Suami Peni pun terkena pemutusan hubungan kerja lantaran bank yang menjadi tempat kerjanya ditutup. Untuk membantu perekonomian keluarga, Peni memutuskan untuk berjualan baju. “Karenapassion saya di busana muslim, saya berjualan baju muslim,” katanya. Bersama anak-anaknya,Peni mengembangkan metode belajarnya tersebut. “Selama tiga tahun terjadi trial error, tapi kami tak patah semangat,” ungkapnya. Setelah jarimatika ini berhasil dikembangkan pada tahun 2000, banyak orang tua, khususnya para ibu tertarik untuk mempelajari.

3.     ORANG-ORANG YG MENYEBARLUASKAN METODE JARIMATIKA

Untuk memperkenalkan metode jarimatika, Peni harus berpindah dari satu bus ke bus yang lain. “Saat promosi, kami menggunakan atribut lengkap jarimatika,” papar Peni.

Di rumah, Peni menerapkan metode belajar home schooling untuk anak-anaknya. Menurutnya, di rumah adalah metode yang tepat untuk membangun karakter si anak. Ia berpendapat, hingga anak berumur 12 tahun merupakan saat yang tepat untuk membangun karakternya. Selanjutnya, dari usia 13 tahun sampai 15 tahun, anak boleh merasakan dunia luar. Mulai umur 15 tahun itu pula, anak sudah bisa hidup mandiri.

Peni berprinsip anak harus ditangani ahlinya. Karena itu, ia rajin mengikuti kuliah-kuliah umum dan terus belajar tentang pendidikan anak. Ia mengaku, menggunakan kartu nama yang unik sebagai jalan masuk untuk mengikuti kuliah umum ataupun seminar-seminar dan berdiskusi dengan para dosen. Di kartu namanya, Peni menulis status dirinya sebagai ibu rumahtangga profesional.

Awalnya, banyak yang meragukan metode belajar yang diterapkan Peni. Khususnya dalam soal sosialisasi. Namun, menurut dia, belajar di sekolah dasar (SD) selama enam tahun, mulai dari kelas satu sampai kelas enam dengan teman yang sama, bukan sebuah sosialisasi yang sebenarnya.

Keberhasilan sosialisasi, Peni melanjutkan, adalah ketika anak bisa menyesuaikan diri serta tidak minder ketika berada dalam sebuah komunitas dan lingkungan yang berbeda. Mulai dari masyarakat desa sampai pada kelas elite.

Upaya Septi Peni Wulandari membukukan metode jarimatika dalam sebuah buku berbuah manis. Masyarakat merespons baik bukunya. Banyaknya masyarakat yang ingin mempelajari jarimatika membuat Peni akhirnya mewaralabakan metode belajar ini. Namun, usahanya sempat terganjal masalah modal dan utang.

Tahun 2003, harapan Septi untuk lebih mengembangkan jarimatika ke tingkat yang lebih luas terbuka lebar. Peristiwa itu terjadi ketika ia bertemu dengan seorang perempuan yang tertarik dengan metode yang dia kembangkan. Orang tersebut pun menyarankan Peni membukukan metode belajar jarimatika.

“Kita enggak kepikiran sampai sejauh itu,” tutur Peni yang kala itu tidak memiliki komputer. Lalu Peni mengumpulkan flip chart dari hasil pengembangan metodenya ini untuk dibukukan.

Ternyata, masyarakat merespons positif penerbitan buku jarimatika tersebut. “Saat ini, buku sudah cetakan ke-13. Kalau diperkirakan, totalnya ada sekitar 130.000 eksemplar di pasar,” jelas Peni.

Tak lama setelah buku jarimatika terbit tahun 2003, banyak pihak yang kemudian menghubungi Peni untuk mengisi pelatihan di berbagai wilayah, khususnya Jabodetabek. Peni pun akhirnya mematenkan jarimatika pada tahun 2005 untuk melindungi karyanya tersebut.

Ketika jarimatika sudah dikenal luas di wilayah Jabodetabek, tahun 2006 Peni sekeluarga mendapat kabar bahwa mertuanya sakit dan dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang. Karena keluarga Peni memiliki waktu yang lebih fleksibel dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, ia memutuskan kembali ke Salatiga dan merawat ayah mertuanya selama satu bulan.

Setelah sembuh, ayah mertua Peni dibawa ke Salatiga. Di kota ini pulalah anak-anak Peni merasa nyaman dan betah. Mereka tidak ingin kembali ke Jakarta. Dan, “Saat itu, saya berpikir jarimatika di Jakarta sudah mulai berkembang,” kata Peni.

Setelah menetap di Salatiga, Peni harus memulai dari nol lagi. Tabungannya pun sudah habis untuk biaya pengobatan ayah mertuanya. Lagi-lagi untuk yang kedua kalinya suami Peni mengatakan kepadanya: “Bersungguh-sungguhlah kamu pada Allah, Rasulullah, bapak dan ibu. Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka masalah dunia, Allah yang mengatur,” papar Peni menirukan nasihat suaminya.

Kekhawatiran Peni akhirnya pudar ketika banyak media yang meliput metode jarimatikanya ini. Usahanya pun berkembang tak hanya di seputar Jabodetabek, tetapi juga melebar ke pantura, mulai dari Solo sampai Bali dan Nusa Tenggara. Metodenya ini juga mulai diterima di wilayah luar Jawa. “Paling tidak sudah tersebar sampai ke 33 kota,” jelasnya.

Awalnya Peni memang tidak ada niat mewaralabakan usahanya. Ia pun memungut biaya tipis saja. Namun, ia menyadari sesuatu yang digratiskan pasti pada akhirnya akan hancur karena tidak ada komitmen untuk investasi.

Peni menilai biaya investasi yang hanya Rp 3 juta kurang mempan menumbuhkan komitmen mitra usahanya. Pada tahun 2007, ia menaikkan biaya kemitraan menjadi Rp 9,5 juta. “Efeknya sangat baik, banyak mitra yang sungguh-sungguh menjadikan usaha ini sebagai sebuah bentuk investasi,” tuturnya.

Peni juga sempat kewalahan menutup utang bank yang pernah ia ajukan guna membangun kantor dan mencetak berbagai perlengkapan pendukung untuk metode jarimatikanya. “Saya tidak menyangka bunga utang bank sangat memberatkan,” imbuhnya.

Ia pun memberanikan diri mempresentasikan usahanya ini ke bank-bank guna mendapatkan dana pinjaman untuk bisa menutup sisa utangnya. Dari tiga bank yang didatangi Peni, dua di antaranya menolak konsep Peni. Apalagi, Peni juga tidak punya agunan untuk menjamin utangnya.

Peni harus bolak-balik Salatiga-Semarang untuk mengajukan proposal usahanya tersebut. Satu-satunya modal yang ia bawa untuk mengajukan utang kepada bank adalah kliping hasil tulisan berbagai media.

Setelah beberapa kali ditolak, Peni menemukan satu bank yang mau memberikan utang tanpa agunan. Selain mendapatkan modal usaha, Peni juga mendapat dana untuk menutup bunga bank yang melilitnya saat itu.

Jarimatika merupakan celah bagi Peni menjadi seorang pengajar sekaligus pengusaha. Dari jarimatika, banyak ibu rumah tangga yang menjadi penulis buku bertema jarimatika

Rogers mengelompokkan adaptor sebuah inovasi ke dalam 5 kelompok yaitu; inovator, early inovators, early majority, late majority, dan laggards. Dalam difusi inovasi METODE JARIMATIKA,  sebagai early inovators dalam penyebarluasan metode jarimatika adalah anaknya  beliau yang secara langsung menerima ide inovasi dari Septi.

4.     PENYEBARLUASAN METODE JARIMATIKA

 

Banyak pembaca tertarik dan meminta Septi memberikan pelatihan agar mereka bisa mengajari anak-anaknya di rumah. Bahkan, perempuan kelahiran Salatiga itu ”terpaksa” membuka kursus di Depok Timur, sebelum pindah ke Salatiga, Jawa Tengah. Rumahnya di Salatiga berubah menjadi markas pelatihan Jarimatika.

Awalnya sulit mengajarkan Jarimatika kepada para ibu karena mereka merasa tangannya sudah kaku. Sebagian lagi berpandangan berhitung dengan tangan itu kuno dan hanya dapat sampai hitungan 10.

”Ada yang sampai nangis-nangis melipat jarinya, dan sekarang ibu itu menjadi instruktur keliling Indonesia,” katanya.

Sebagian peserta pelatihan kemudian tertarik membuka kursus. Jalan hidup sebagian dari mereka pun berubah. ”Ada manajer perusahaan multinasional dan beberapa perempuan dengan jabatan bagus yang mengundurkan diri dari pekerjaan karena ingin mendidik sendiri anaknya. Mereka tetap mandiri secara finansial dengan membuka kursus Jarimatika,” ujarnya.

Sekarang terdapat 80 waralaba Jarimatika yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, beberapa berada di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Timur Tengah. Tak kurang dari 600 ibu yang telah dilatihnya belajar berhitung. Septi tak pernah membayangkan sedemikian luas metode itu dikenal orang lantaran semula hanya diperuntukkan bagi ketiga anaknya.

Rentetan penghargaan mengikuti sepak terjang Septi. Tahun 2006 dia menerima penghargaan Danamon Award untuk kriteria pengembangan sumber daya masyarakat. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tertarik menggunakan metodenya guna memberdayakan ibu-ibu di daerah terpencil. Ashoka Foundation, yayasan dari Amerika, juga melibatkan Septi dalam jaringannya. Belakangan dia mendapat tawaran dari Kedutaan Besar Indonesia di Swedia guna mengenalkan metode tersebut kepada ibu-ibu di negara itu.

5.     DAMPAK PERUBAHAN YG DIHASILKAN

 

Berhitung dengan teknik jarimatika mudah dipelajari dan menyenangkan bagi peserta didik. Mudah dipelajari karena jarimatika mampu menjembatani antara tahap perkembangan kognitif peserta didik yang konkret dengan materi berhitung yang bersifat abstrak. Jarimatika memberikan visualisasi proses berhitung, peserta didik belajar dengan memanipulasi hal-hal konkret tersebut untuk memepelajari materi matematika yang bersifat abstrak dan deduktif.Ilmu ini mudah dipelajari segala usia, minimal anak usia 3 tahun. Menyenangkan karena peserta didik merasakan seolah mereka bermain sambil belajar dan merasa tertantang dengan teknik jarimatika tidak membebani memori otak peserta didik. Teknik berhitung jarimatika mampu menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, hal itu dapat ditunjukkan pada waktu berhitung mereka akan mengotak-atik jari-jari tangan kanan dan kirinya secara seimbang. Jarimatika mengajak peserta didik untuk dapat mengaplikasikan operasi hitung dengan dengan cepat dan akurat menggunakan alat bantu jari-jari tangan, tanpa harus banyak menghafalkan semua hasil operasi hitung tersebut.

 

Praktis dan efisien . Dikatakan praktis karena alat hitungnya jari maka selalu dibawa kemana-mana. Alatnya tidak akan pernah ketinggalan dan tidak akan disita apalagi diambil, jika si anak ketahuan memakai Jari-jari sebagai alat hitungnya pada saat ujian. Efisien karena alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli. Penggunaan “Jarimatika” lebih menekankan pada penguasaan konsep terlebih dahulu baru ke cara cepatnya, sehingga anak-anak menguasai ilmu secara matang. Selain itu metode ini disampaikan secara fun, sehingga anak-anak akan merasa senang dan gampang bagaikan “tamasya belajar”.  Pengaruh daya pikir dan psikologis Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru. Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal. Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas. Pengaruh daya pikir dan psikologis Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru.Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal.Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas.

 6.     RELATIVE ADVANTAGES OF JARIMATIKA METHOD

Jarimatika adalah cara berhitung KaBaTaKu (kali, bagi, tambah, kurang) dengan menggunakan jari tangan. Biasanya, anak-anak paling takut dan paling tidak senang dengan pelajaran berhitung. Namun, jarimatika memberikan sebuah solusi yang lain, sehingga berhitung menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Jarimatika  paling efektif diajarkan pada anak usia kanak-kanak (4-6 tahun) dan usia sekolah dasar (6-12 tahun). Tapi, kita sebagai orang tua pun dapat mempelajarinya juga. Apa keunggulan jarimatika dibandingkan metode lain

Memberikan visualisasi dalam proses berhitung

Menggembirakan anak saat menggunakannya

Tidak memberatkan memori otak

Alatnya adalah jari tangan yang tidak perlu membeli, tidak pernah ketinggalan,  selalu dibawa kemana saja, dan tidak bisa disita pada saat ujian

5. Membentuk mental berhitung yang cemerlang karena secara nyata mengedepankan

proses mendapatkan hasil  Merangsang potensi otak sehingga berkembang dan mencapai fungsi yang optimal,  Meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan ketelitian dalam berpikir

Belajar jarimatika dapat membantu anak dalam pelajaran matematika, sehingga anak tidak phobi/alergi terhadap matematika atau pelajaran lain yang berbasis ganda. Selain itu, anak yang belajar jarimatika biasanya menjadi lebih percaya diri, lebih tekun, dan lebih kreatif dalam menciptakan ide-ide.

7.     KELEBIHAN DAN KELEMAHAN JARIMATIKA

Kelebihan

  • Jarimatika memberikan visualisasi proses berhitung.

Hal ini akan membuat anak mudah melakukannya.

  • Dapat melatih menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan
  • Gerakan jari-jari tangan akan menarik minat anak. Mungkin mereka menganggapnya lucu. Yang jelas, mereka akan melakukannya dengan GEMBIRA.
  • Jarimatika relatif tidak memberatkan memori otak saat digunakan.
  • Alatnya tidak perlu dibeli, tidak akan pernah ketinggalan, atau terlupa dimana menyimpannya….
  • ….dan juga tidak bisa disita saat ujian…

      Kelemahan           

  • Karena jumlah jari tangan terbatas maka operasi matematika yang bisa di selesaikan juga terbatas
  • Kalau kurang latihan agak lambat menghitung di bandingkan sempoa

8.     REKOMENDASI

  Langkah-langkah Jarimatika

  1. Kenalkan dulu pada anak tentang bilangan dan proses membilang

Contoh :    * Ini satu bola (tunjukkan bola satu buah)

* Bagaimana dengan ini ? (Tunjukkan beberapa bola)

  1. Kenalkan lambang bilangan
  2. Mulailah kenalkan dengan proses menjumlah dan mengurang
  3. Kenalkan lambang-lambang yang digunakan dalam jarimatika
  4. Ajak anak untuk terus bergembira, jangan merepotkan anak untuk menghafal lambang tersebut

 

 

GOOD  LUCK !!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s